Pendopo Iman
Pendopo Iman
Portal Berita
Menyiapkan halaman untuk Anda...
Beranda Tentang Berita Ilmu Koleksi Galeri Kontak
Masuk Daftar

Belajar Mengenal Diri dan Ketangguhan dari Kisah Nabi Yusuf by Pendopo Iman

Belajar Mengenal Diri dan Ketangguhan dari Kisah Nabi Yusuf by Pendopo Iman
Belajar Mengenal Diri dan Ketangguhan dari Kisah Nabi Yusuf adalah tema yang dibahas oleh Kak Fathurr (Alim Faturrahman) dan Ustadz Hanif Kertasari yang mengangkat tadabur Surah Yusuf, khususnya tentang konsep diri, pengasuhan, dan ketangguhan menghadapi ujian.

Belajar Mengenal Diri dan Ketangguhan dari Kisah Nabi Yusuf

Pendopo Iman — Ujian tidak selalu hadir untuk menjatuhkan. Dalam banyak keadaan, justru melalui ujian seseorang dibentuk menjadi lebih matang, mengenal dirinya, dan memahami tujuan hidupnya.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah kajian di Pendopo Iman bersama Kak Fathurr (Alim Faturrahman) dan Ustadz Hanif Kertasari yang mengangkat tadabur Surah Yusuf, khususnya tentang konsep diri, pengasuhan, dan ketangguhan menghadapi ujian.

Kak Fathurr mengawali kajian dengan menggambarkan beratnya ujian yang dialami Rasulullah SAW dan para sahabat ketika Surah Yusuf diturunkan. Kisah Nabi Yusuf kemudian hadir sebagai penguat: seorang anak yang disakiti saudara-saudaranya, dibuang ke sumur, dijual sebagai budak, menghadapi tuduhan, hingga dipenjara, tetapi akhirnya dipercaya menjadi pengelola perbendaharaan Mesir.

Menurutnya, perjalanan Nabi Yusuf menunjukkan pentingnya memiliki konsep diri yang sehat. Identitas seorang Muslim tidak semestinya hanya dibangun dari profesi, pendidikan, status sosial, atau penilaian manusia. Identitas yang paling mendasar adalah sebagai hamba Allah, yang memiliki amanah sebagai khalifah di bumi dan berusaha menghadirkan kebaikan.

Al-Qur'an pun dapat menjadi anchor atau jangkar ketika seseorang mengalami kebingungan dan kehilangan arah dalam hidup.

Sementara itu, Ustadz Hanif Kertasari mengajak peserta menyelami Surah Yusuf ayat 6, terutama makna kata yajtabika—Allah memilih Yusuf untuk suatu amanah. Pemilihan tersebut bukan sekadar keistimewaan, tetapi berkaitan dengan potensi dan kualifikasi yang Allah berikan.

Ia juga menyoroti pola komunikasi Nabi Ya'qub AS dengan Yusuf kecil. Panggilan penuh kasih seperti ya abati dan ya bunayya menunjukkan adanya kedekatan serta ruang aman bagi anak untuk bercerita kepada orang tuanya.

Dari ayat tersebut, peserta diajak memahami bahwa proses pembentukan diri tidak selalu berlangsung melalui keadaan yang mudah. Allah mengajarkan Yusuf melalui perjalanan hidup yang panjang dan penuh ujian hingga akhirnya berbagai peristiwa tersebut menjadi bagian dari kematangan dirinya.

Dalam sesi tanya jawab, keduanya juga mengingatkan bahwa setiap orang memiliki jalan pengabdian yang berbeda. Tidak harus menjadi pendakwah atau tampil di depan publik untuk menjadi bermanfaat. Membagikan ilmu, membantu orang lain menemukan kebaikan, mendidik keluarga, maupun menjadi perantara tersebarnya manfaat dapat menjadi bagian dari amal saleh.

Kajian ini pada akhirnya mengajak peserta kembali pada pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya diri kita?

Sebab ketika identitas hanya bergantung pada penilaian manusia, perubahan keadaan mudah menggoyahkan diri. Namun ketika seseorang mengenal dirinya sebagai hamba Allah, ia memiliki pijakan untuk tetap berjalan meski kehidupan sedang tidak baik-baik saja.

Kisah Nabi Yusuf mengingatkan bahwa sumur, penjara, dan berbagai ujian bukanlah akhir dari perjalanan. Bisa jadi, ia adalah bagian dari proses Allah mempersiapkan seseorang menuju amanah yang lebih besar.


Komentar 0

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!